Mengatasi Panas Tinggi Pada Anak, Radang Tenggorokan atau Sariawan?

Seminggu yang lalu si mbarep panas tinggi mulai malam Rabu hingga Kamis Sore padahal sudah diberi minum parasetamol dan dikompres air hangat beberapa kali oleh umiknya, karena cemas lalu saya bawa ke rumah sakit islami Masyitoh di kota Bangil. Setiba di rumah sakit langsung masuk ke ruang IGD, dokter jaganya cukup muda tapi ramah dan komunikasinya yang enak membuat hati tenang. Sang perawat melaporkan suhu anak saya Ridho 39,1 C. Oleh dokter muda tersebut langsung diberi SUPP parasetamol 120 mg karena khawatir mengalami kejang-kejang atau step.

anak panas tinggi

Alhamdulillah… belum ada 30 menit suhunya langsung turun namun badannya masih terasa hangat. Rupanya ajaib juga SUPP parasetamol ini, tapi memasukkannya bukan lewat oral tapi melalui dubur si anak. Obatnya tidak berbau seperti obat wasir atau ambein yang juga masuk lewat pintu belakang. 😀

Sepulang dari rumah sakit sebab tidak rawat inap hanya diberi obat batuk dan parasetamol serta antibiotik. Diagnosis dokter terkena infeksi saluran pernapasan. Untungnya anak saya lebih bertenaga dan bermain-main meskipun diselingi tidur-tiduran. Namun badannya masih hangat-hangat panas, maka saya pun berinisiatif untuk membeli SUPP parasetamol di apotik, harganya sekitar 8 ribuan rupiah per bijinya.

Di malam hari dan esok siangnya saya berikan sendiri obat panas supp itu, tentu saja dengan usaha yang gak gampang karena si anak merasa tidak nyaman saat dimasuki obat itu. Panasnya pun turun lumayan, tapi ada kejanggalan karena tidak doyan makan. Setiap makan sesuatu pasti dimuntahkan dan bilang sakit.. sakit. Dugaan saya pun ini karena radang tenggorokan sesuai diagnosis dokter atau sakit gigi, memang giginya beberapa hitam. Kemudian umik memeriksa mulutnya dengan senter hp, lalu tiba-tiba dia lemas karena tenggorokan atau daerah dekat amandel (intil-intil) sangat memerah. Saya memeriksanya ternyata tampak lingkaran-lingkaran putih sariawan di daerah tersebut.

Esok harinya saya periksakan lagi ke dokter dengan menyebutkan gejala sariawan tersebut. Lalu diberi resep obat parasetamol sirup, antibiotik, dan Nystatin. Saya juga membeli obat Indra sariawan untuk anak yang disarankan para tetangga. Alhamdulillah… ternyata panasnya pun hilang seiring meminum obat-obat itu.

Pelajaran dari kisah nyata ini 😀 adalah sediakan parasetamol untuk anak di rumah setiap waktu, pelajari mengompres anak dengan cara yang benar, amati gejala sakit sang anak dengan teliti karena kadang dokter pun ada kekurangannya bila informasi yang kita berikan tidak lengkap. Merujuklah pada dokter atau ahli kesehatan bila panas anak berlangsung sudah 1-2 hari agar tidak timbul masalah yang lebih mengkhawatirkan. Dan jangan lupa selalu berdoa pada Allah yang Maha Menyembuhkan.

Iklan

Pendidikan awal sebuah kebangkitan bangsa

Pertanyaan yang akan muncul ketika kita melihat bangsa ini terpuruk, apa penyebab kemunduran bangsa indonesia? Simaklah bagaimana tokoh malaysia berpendapat:

Mahathir Mohamad berkomentar, anggaran pendidikan di Malaysia sebesar 25 persen sehingga dapat mendorong penerapan pendidikan yang maksimal. Bagi Mahathir, kurangnya pendidikan merupakan awal dari kemunduran suatu negara. “Bangsa yang tidak punya ilmu dan tidak bisa mengembangkannya kekal dengan kebodohan,” ujar Mahathir dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Pendidikan dan Kemajuan Suatu Bangsa dalam Wisuda Semester Gasal 2007/2008 Universitas Pancasila di Jakarta, kompas.com

Maka pendidikan tentang ideologi sebuah negara atau bangsa akan menghantarkan kepada kebangkitan sempurna, bukan pendidikan yang tidak terarah seperti saat ini. Anda sependapat dengan saya?

Ancaman Kapitalisasi dan Liberalisasi Pendidikan Sangat Jelas Pada Pengesahan UU BHP

Pada tanggal 17 desember Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan disahkan oleh DPR, beragam aksi protes dari kalangan mahasiswa terjadi setelah UU BHP disahkan. Sekitar 30 mahasiswa Universitas Indonesia dikeluarkan secara paksa dari ruangan sidang paripurna, saat rapat pandangan terakhir fraksi yang membahas Badan Hukum Pendidikan, Rabu (17/12/2008). Mereka berpandangan UU BHP mengkhawatirkan, undang-undang baru ini akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat. mereka pun berpandangan RUU BHP bertentangan dengan UUD karena di BHP disebutkan masyarakat ikut menanggung biaya pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya ditanggung pemerintah. Mereka mengkhawatirkan biaya pendidikan lebih mahal dan UU lebih kejam dari pada bentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Aksi unjuk rasa tentang penolakan UU BHP ini juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Surabaya, Puluhan mahasiswa BEM ITS mengelar aksi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR) Surabaya, (liputan6.com)

Di Yogya 50 mahasiswa UGM yang diwakili tiga elemen mahasiswa dari Fakultas Hukum, Psikologi dan MIPA menggelar aksi penolakan yang bertepatan dengan acara peringatan Dies Natalis ke-59 UGM (http://beritasore.com/)

Puluhan Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) dari BEM Universitas Brawijaya menggelar aksi menolak pengesahan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) oleh DPR RI pada 17 Desember 2008 lalu. (surabaya.detik.com)

Kekhawatiran mahasiswa yang menentang Pengesahan UU BHP tersebut dikarenakan ada beberapa pasal yang ditengarai dapat menjadikan Pendidikan hanya dijadikan sebagai barang komoditas. Mereka juga berpandangan UU BHP akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat, mereka pun berpandangan RUU BHP bertentangan dengan UUD karena di BHP disebutkan masyarakat ikut menanggung biaya pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya ditanggung pemerintah. Mereka mengkhawatirkan biaya pendidikan lebih mahal dan UU lebih kejam dari pada bentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN). (ugm.ac.id)

Hal yang sama juga disampaikan oleh Menteri Kesehatan Dr Siti Fadilah Supari dalam pembukaan Munas Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM. Secara lantang Menkes mengatakan UU BHP justru hanya akan mempersiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli. “Setelah lulus SMK misalnya terus hanya cari kerja, maka kita hanya akan menjadi bangsa kuli dan kulinya bangsa-bangsa seperti diungkapkan Bung Karno dahulu kala,” ujar Siti Fadilah Supari dalam pidatonya. Baca lebih lanjut

Permasalahan dan Solusi Internet dalam Dunia Pendidikan

Kendala bidang pendidikan ini dapat diatasi dengan adanya internet yang bisa diakses oleh peserta didik di perguruan tinggi. Berbagai macam informasi seperti perpustakaan online, jurnal online, majalah, dan bahkan buku-buku teks yang dapat di-download gratis dari berbagai situs yang ada dalam dunia internet. Mahasiswa bisa mencari apapun yang berkaitan dengan materi perkuliahan disampaikan dosen di kelas, untuk memperbandingkan, memperkaya pengetahuan, dan mencari sesuatu yang memerlukan kejelasan dan pemahaman mendalam.

Permasalahan selalu timbul dalam dunia pendidikan adalah kekurangan informasi dan referensi akibat terbatasnya jumlah sarana belajar. Ketersediaan buku – buku di perpustakaan terutama pada lembaga pendidikan swasta cukup memprihatinkan dan sangat jauh dari harapan jika yang menjadi tujuan adalah melahirkan sarjana-sarjana berkualitas dari universitas.

Namun pada praktiknya, sosialisasi internet bagi dunia pendidikan tidak semudah yang dibayangkan dan diharapkan banyak pihak, menurut Rahardjo (2001), terbatasnya pemanfaatan teknologi informasi ini dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya kurangnya penguasaan bahasa Inggris, kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia, mahalnya biaya akses internet, dan ketidaksiapan tenaga pendidik.

Faktor pertama, merupakan permasalahan utama dalam memanfaatkan segala teknologi hasil karya masyarakat Barat. Produk-produk teknologi yang sampai ke tangan masyarakat dunia umumnya menggunakan komunikasi berbahasa Inggris sehingga menyulitkan bagi para pengguna seperti mahasiswa Indonesia yang Jurnal Ilmiah umumnya masih memiliki kemampuan rendah dalam bahasa asing, sedangkan banyak informasi-informasi dan ilmu pengetahuan direkayasa dalam bahasa internasional tersebut.

Faktor kedua, keterbatasan informasi dan ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia, menjadi salah satu penyebab rendahnya penggunaan internet dalam negeri. Kesadaran masyarakat Indonesia untuk berbagi ilmu pengetahuan masih sangat rendah dibanding di luar negeri. Informasi masih dianggap suatu hal pribadi dan berharga mahal yang tidak dapat diakses oleh seluruh orang, menjadikan pengetahuan hanya berkembang untuk diri pribadi dan komunitas tertentu saja.

Faktor ketiga, adalah kendala mahalnya biaya untuk menggunakan internet di dalam negeri. Untuk mengakses internet pribadi dengan menggunakan jaringan telepon milik pemerintah seseorang harus mengeluarkan biaya hampir sepuluh ribu rupiah per jam sehingga membatasi pemanfaatan internet tersebut. Solusi ini dapat dipecahkan dengan menggunakan internet pada warung-warung internet dengan biaya yang lebih murah antara dua ribu sampai tiga ribu rupiah per jam. Namun masih saja terlalu mahal untuk seorang mahasiswa apabila harus menggunakan dalam frekuensi tinggi (selalu mengakses).

Faktor terakhir, permasalahan dari tenaga pendidik itu sendiri yang masih belum siap menggunakan teknologi internet dalam proses pengajarannya akibat kurangnya kemampuan dosen dalam bidang ini. Seorang dosen tidak akan pernah menyarankan kepada mahasiswa memperkaya wawasan dengan fasilitas internet akibat kekurangmampuannya sendiri. Dampak akhir yang terjadi mahasiswa tidak akan termotivasi untuk mengembangkan diri jika dosen tidak pernah menyarankan pemanfaatan sumber ilmu non formal tersebut.

Masalah terpenting dari sekian faktor penghambat di atas terletak pada faktor ketiga dan keempat yakni mahalnya biaya akses dan keterbatasan dosen. Jika kendala bahasa tidak menjadi masalah, lambat laun mahasiswa akan terus belajar dengan sendirinya dengan tingginya frekuensi penggunaan internet, sehingga mereka akan lebih memahami penguasaan istilah-istilah asing dari internet tersebut. Sumber motivator utama dari dosen adalah faktor terpenting dalam mensosialisasikan kegiatan penunjang pembelajaran. Misalnya untuk melengkapi informasi tentang sebuah kajian masalah di dalam kelas, mahasiswa dianjurkan untuk membuka homepage milik dosen, atau mengakses situs-situs lain yang disarankan dosen.

Dari segi mahalnya biaya kendala ini dapat diatasi dengan berperan penting lembaga pendidikan/universitas untuk mengembangkan sistem pembelajaran internet dengan membangun sebuah jaringan internet di lembaga pendidikan, menyediakan sarana penyewaan dengan biaya yang lebih murah dibanding warung internet milik penguasaha bisnis.

Semua artikel tentang dunia pendidikan insyaallah ada di warnadunia.com

setifikasi guru, solusikah?

Dalam membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal. Guru profesional dan bermartabat menjadi impian kita semua karena akan melahirkan anak bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak. Guru profesional dan bermartabat memberikan teladan bagi terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat.

Pelaksanaan sertifikasi guru diharapkan mampu sebagai solusi berkaitan dengan pencapaian standar guru yang profesional. Akan tetapi, sertifikasi guru seakan-akan menjadi permasalahan baru yang semakin membebani para guru. Khususnya guru-guru yang kurang mendapatkan sosialisasi dari departemen pendidikan.

Dari tinjauan historis memang mayoritas guru di Indonesia kurang mendapatkan kesejahteraan finansial yang memadai dibandingkan dengan negara-negara maju atau berkembang lainnya. Dengan program sertifikasi guru, departemen pendidikan mempunyai alasan kuat dalam menuntut kenaikan gaji guru PNS ataupun yang masih honoris. Alasannya bisa dengan keprofesionalan atau kompetensi guru sudah layak memang untuk mendapatkan gaji yang lebih untuk hidup.

Pertanyaan?

Apakah memang sertifikasi guru bisa menyelesaikan permasalahan pendidikan di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan tsb, kita perlu melihat secara komprehensif tentang permasalahan pendidikan di Indonesia. Dari fakta yang ada, pendidikan merupakan salah satu dimensi yang tidak terpisahkan dengan yang lainnya seperti kondisi pemerintahan, ekonomi, budaya, serta politik di Indonesia. Sehingga sertifikasi guru hanya merupakan solusi parsial bukan solusi yang mampu membawa perubahan berarti.

Betapa tidak dengan anggaran pendidikan yang minimalis(tidak lebih dari 20% sari APBN), mungkinkah posisi pendidikan di indonesia bisa lebih maju?