Pendidikan awal sebuah kebangkitan bangsa

Pertanyaan yang akan muncul ketika kita melihat bangsa ini terpuruk, apa penyebab kemunduran bangsa indonesia? Simaklah bagaimana tokoh malaysia berpendapat:

Mahathir Mohamad berkomentar, anggaran pendidikan di Malaysia sebesar 25 persen sehingga dapat mendorong penerapan pendidikan yang maksimal. Bagi Mahathir, kurangnya pendidikan merupakan awal dari kemunduran suatu negara. “Bangsa yang tidak punya ilmu dan tidak bisa mengembangkannya kekal dengan kebodohan,” ujar Mahathir dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Pendidikan dan Kemajuan Suatu Bangsa dalam Wisuda Semester Gasal 2007/2008 Universitas Pancasila di Jakarta, kompas.com

Maka pendidikan tentang ideologi sebuah negara atau bangsa akan menghantarkan kepada kebangkitan sempurna, bukan pendidikan yang tidak terarah seperti saat ini. Anda sependapat dengan saya?

Ancaman Kapitalisasi dan Liberalisasi Pendidikan Sangat Jelas Pada Pengesahan UU BHP

Pada tanggal 17 desember Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan disahkan oleh DPR, beragam aksi protes dari kalangan mahasiswa terjadi setelah UU BHP disahkan. Sekitar 30 mahasiswa Universitas Indonesia dikeluarkan secara paksa dari ruangan sidang paripurna, saat rapat pandangan terakhir fraksi yang membahas Badan Hukum Pendidikan, Rabu (17/12/2008). Mereka berpandangan UU BHP mengkhawatirkan, undang-undang baru ini akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat. mereka pun berpandangan RUU BHP bertentangan dengan UUD karena di BHP disebutkan masyarakat ikut menanggung biaya pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya ditanggung pemerintah. Mereka mengkhawatirkan biaya pendidikan lebih mahal dan UU lebih kejam dari pada bentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Aksi unjuk rasa tentang penolakan UU BHP ini juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Surabaya, Puluhan mahasiswa BEM ITS mengelar aksi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR) Surabaya, (liputan6.com)

Di Yogya 50 mahasiswa UGM yang diwakili tiga elemen mahasiswa dari Fakultas Hukum, Psikologi dan MIPA menggelar aksi penolakan yang bertepatan dengan acara peringatan Dies Natalis ke-59 UGM (http://beritasore.com/)

Puluhan Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) dari BEM Universitas Brawijaya menggelar aksi menolak pengesahan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) oleh DPR RI pada 17 Desember 2008 lalu. (surabaya.detik.com)

Kekhawatiran mahasiswa yang menentang Pengesahan UU BHP tersebut dikarenakan ada beberapa pasal yang ditengarai dapat menjadikan Pendidikan hanya dijadikan sebagai barang komoditas. Mereka juga berpandangan UU BHP akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat, mereka pun berpandangan RUU BHP bertentangan dengan UUD karena di BHP disebutkan masyarakat ikut menanggung biaya pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya ditanggung pemerintah. Mereka mengkhawatirkan biaya pendidikan lebih mahal dan UU lebih kejam dari pada bentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN). (ugm.ac.id)

Hal yang sama juga disampaikan oleh Menteri Kesehatan Dr Siti Fadilah Supari dalam pembukaan Munas Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM. Secara lantang Menkes mengatakan UU BHP justru hanya akan mempersiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli. “Setelah lulus SMK misalnya terus hanya cari kerja, maka kita hanya akan menjadi bangsa kuli dan kulinya bangsa-bangsa seperti diungkapkan Bung Karno dahulu kala,” ujar Siti Fadilah Supari dalam pidatonya. Baca lebih lanjut

Permasalahan dan Solusi Internet dalam Dunia Pendidikan

Kendala bidang pendidikan ini dapat diatasi dengan adanya internet yang bisa diakses oleh peserta didik di perguruan tinggi. Berbagai macam informasi seperti perpustakaan online, jurnal online, majalah, dan bahkan buku-buku teks yang dapat di-download gratis dari berbagai situs yang ada dalam dunia internet. Mahasiswa bisa mencari apapun yang berkaitan dengan materi perkuliahan disampaikan dosen di kelas, untuk memperbandingkan, memperkaya pengetahuan, dan mencari sesuatu yang memerlukan kejelasan dan pemahaman mendalam.

Permasalahan selalu timbul dalam dunia pendidikan adalah kekurangan informasi dan referensi akibat terbatasnya jumlah sarana belajar. Ketersediaan buku – buku di perpustakaan terutama pada lembaga pendidikan swasta cukup memprihatinkan dan sangat jauh dari harapan jika yang menjadi tujuan adalah melahirkan sarjana-sarjana berkualitas dari universitas.

Namun pada praktiknya, sosialisasi internet bagi dunia pendidikan tidak semudah yang dibayangkan dan diharapkan banyak pihak, menurut Rahardjo (2001), terbatasnya pemanfaatan teknologi informasi ini dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya kurangnya penguasaan bahasa Inggris, kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia, mahalnya biaya akses internet, dan ketidaksiapan tenaga pendidik.

Faktor pertama, merupakan permasalahan utama dalam memanfaatkan segala teknologi hasil karya masyarakat Barat. Produk-produk teknologi yang sampai ke tangan masyarakat dunia umumnya menggunakan komunikasi berbahasa Inggris sehingga menyulitkan bagi para pengguna seperti mahasiswa Indonesia yang Jurnal Ilmiah umumnya masih memiliki kemampuan rendah dalam bahasa asing, sedangkan banyak informasi-informasi dan ilmu pengetahuan direkayasa dalam bahasa internasional tersebut.

Faktor kedua, keterbatasan informasi dan ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia, menjadi salah satu penyebab rendahnya penggunaan internet dalam negeri. Kesadaran masyarakat Indonesia untuk berbagi ilmu pengetahuan masih sangat rendah dibanding di luar negeri. Informasi masih dianggap suatu hal pribadi dan berharga mahal yang tidak dapat diakses oleh seluruh orang, menjadikan pengetahuan hanya berkembang untuk diri pribadi dan komunitas tertentu saja.

Faktor ketiga, adalah kendala mahalnya biaya untuk menggunakan internet di dalam negeri. Untuk mengakses internet pribadi dengan menggunakan jaringan telepon milik pemerintah seseorang harus mengeluarkan biaya hampir sepuluh ribu rupiah per jam sehingga membatasi pemanfaatan internet tersebut. Solusi ini dapat dipecahkan dengan menggunakan internet pada warung-warung internet dengan biaya yang lebih murah antara dua ribu sampai tiga ribu rupiah per jam. Namun masih saja terlalu mahal untuk seorang mahasiswa apabila harus menggunakan dalam frekuensi tinggi (selalu mengakses).

Faktor terakhir, permasalahan dari tenaga pendidik itu sendiri yang masih belum siap menggunakan teknologi internet dalam proses pengajarannya akibat kurangnya kemampuan dosen dalam bidang ini. Seorang dosen tidak akan pernah menyarankan kepada mahasiswa memperkaya wawasan dengan fasilitas internet akibat kekurangmampuannya sendiri. Dampak akhir yang terjadi mahasiswa tidak akan termotivasi untuk mengembangkan diri jika dosen tidak pernah menyarankan pemanfaatan sumber ilmu non formal tersebut.

Masalah terpenting dari sekian faktor penghambat di atas terletak pada faktor ketiga dan keempat yakni mahalnya biaya akses dan keterbatasan dosen. Jika kendala bahasa tidak menjadi masalah, lambat laun mahasiswa akan terus belajar dengan sendirinya dengan tingginya frekuensi penggunaan internet, sehingga mereka akan lebih memahami penguasaan istilah-istilah asing dari internet tersebut. Sumber motivator utama dari dosen adalah faktor terpenting dalam mensosialisasikan kegiatan penunjang pembelajaran. Misalnya untuk melengkapi informasi tentang sebuah kajian masalah di dalam kelas, mahasiswa dianjurkan untuk membuka homepage milik dosen, atau mengakses situs-situs lain yang disarankan dosen.

Dari segi mahalnya biaya kendala ini dapat diatasi dengan berperan penting lembaga pendidikan/universitas untuk mengembangkan sistem pembelajaran internet dengan membangun sebuah jaringan internet di lembaga pendidikan, menyediakan sarana penyewaan dengan biaya yang lebih murah dibanding warung internet milik penguasaha bisnis.

Semua artikel tentang dunia pendidikan insyaallah ada di warnadunia.com

Belajar online, kenapa tidak?

Pejelasan

Dulu mungkin kita berpikir bahwa kegiatan belajar mengajar harus dalam ruang kelas. Dengan kondisi dimana guru atau dosen mengajar di depan kelas sambil sesekali menulis materi pelajaran di papan tulis. Beberapa puluh tahun yang lalu pun juga telah dikenal pendidikan jarak jauh. Walaupun dengan mekanisme yang boleh dibilang cukup sederhana untuk ukuran sekarang, tetapi saat itu metode tersebut sudah dapat membantu orang-orang yang butuh belajar atau mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala geografis. Memang kita akui, sejak ditemukannya teknologi Internet, hampir ‘segalanya’ menjadi mungkin. Kini kita dapat belajar tak hanya anywhere, tetapi sekaligus anytime dengan fasilitas sistem E-Learning atau pendidikan online yang ada.

Untuk melihat dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap kegiatan pembelajaran secara umum, terdapat beberapa istilah yang mirip, seperti: Distance Education, Distance Learning, Computer Mediated Learning, Computer Aided Instruction, dsb. Sehingga tak jarang terjadi tumpang tindih dalam penggunaan istilah tersebut. Tulisan ini sengaja menggunakan istilah E-Learning karena cakupan pengertian yang lebih umum digunakan dan juga menekankan aspek penggunaan TIK dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran kapan saja, dimana saja.

Berikut adalah pengertian dari beberapa istilah tersebut:

1. Distance Learning, yaitu instructional delivery yang tidak mengharuskan siswa untuk hadir secara fisik pada tempat yang sama dengan pengajar (Ornager, UNESCO, 2003).

2. Distance Education, yaitu model pembelajaran dimana siswa berada di rumah atau kantor mereka dan berkomunikasi dengan dosen maupun dengan sesama mahasiswa melalui e-mail, forum diskusi elektronik, videoconference, serta bentuk komunikasi lain yang berbasis komputer (Webopedia, 2003).

3. E-Learning, yaitu proses belajar/pendidikan yang difasilitasi dan didukung melalui pemanfaatan TIK (Martin Jenkins and Janet Hanson, Generic Center, 2003).

E-Learning atau Internet enabled learning menggabungkan metode pengajaran/pendidikan dan teknologi sebagai sarana dalam belajar. (Dr. Jo Hamilton-Jones)

E-Learning adalah proses belajar secara efektif yang dihasilkan dengan cara menggabungkan penyampaian materi secara digital yang terdiri dari dukungan dan layanan dalam belajar. (Vaughan Waller, 2001)

Definisi lain dari E-Learning adalah proses instruksi yang melibatkan penggunaan peralatan elektronik dalam menciptakan, membantu perkembangan, menyampaikan, menilai dan memudahkan suatu proses belajar mengajar dimana pelajar sebagai pusatnya serta dilakukan secara interaktif kapanpun dan dimanapun.

Kelebihan E-Learning /belajar  online

Dalam bentuk beragam, E-Learning menawarkan sejumlah besar keuntungan yang tidak ternilai untuk pengajar dan pelajar.

· Pengalaman pribadi dalam belajar online : pilihan untuk mandiri dalam belajar menjadikan siswa untuk berusaha melangkah maju, memilih sendiri peralatan yang digunakan untuk penyampaian belajar mengajar, mengumpulkan bahanbahan sesuai dengan kebutuhan.

· Mengurangi biaya : lembaga penyelenggara E-Learning dapat mengurangi bahkan menghilangkan biaya perjalanan untuk pelatihan, menghilangkan biaya pembangunan sebuah kelas dan mengurangi waktu yang dihabiskan oleh pelajar untuk pergi ke sekolah.

· Mudah dicapai: pemakai dapat dengan mudah menggunakan aplikasi E-Learning dimanapun juga selama mereka terhubung ke internet. E-Learning dapat dicapai oleh para pemakai dan para pelajar tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.

· Kemampuan bertanggung jawab : Kenaikan tingkat, pengujian, penilaian, dan pengesahan dapat diikuti secara otomatis sehingga semua peserta (pelajar, pengembang dan pemilik) dapat bertanggung jawab terhadap kewajiban mereka masing- masing di dalam proses belajar mengajar.

Kekurangan E-Learning atau belajar  online

· Beberapa kekurangan yang dimiliki oleh pemanfaatan E-Learning:

· Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalamproses belajar mengajar.

· Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.

· Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.

· Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication and Technology).

· Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer).

· Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan tentang internet.

· Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Pendidikan Islam Sebagai Solusi?

Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah kompleks. Mulai dari angka putus sekolah, fasilitas yang memprihatinkan, kurikulum yang nggak juntrung jelasnya, masalah kesejahteraan guru, dll. Seakan-akan pendidikan nasional tidak akan pernah sehat, akan terus menerus sakit-sakitan. Contoh secara nasional, angka putus sekolah mencapai 4 juta siswa(angka yang cukup tinggi dan mengenaskan), demonstrasi oleh kaum guru masalah kesejahteraan, dsb.

Dari paparan diatas, kita simpulkan permasalahan pendidikan di Indonesia bukan masalah yang enteng tetapi membutuhkan kerja sama dari berbagai elemen bangsa dan kajian sistem pendidikan yang berkualitas.

Di tulisan ini sampaikan beberapa gagasan tentang pendidikan menurut Islam, barangkali bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Konsep Pendidikan Islam

Status Hukum

Menuntut ilmu menjadi kewajiban bagi seluruh kaum muslim.

Kesimpulan tsb diambil dari sabda Rosululloh bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban atas kaum muslimin.
Sehingga menjadi kewajiban bagi negara untuk mengadakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Negara tidak diperbolehkan untuk membebani rakyat dalam masalah pendidikan.

Tujuan pendidikan Islam

Tujuan asas pendidikan Islam yaitu membangun kepribadian Islami, dengan cara menjalankan perangkat pembinaan, pengaturan, dan pengawasan di seluruh aspek pendidikan melalui penyusunan kurikulum, pemilihan guru-guru yang kompeten, dan pemantauan prestasi anak didik serta upaya peningkatannya.

Teknik Pelaksanaan Pendidikan

Kurikulum dilandaskan pada pembangunan manusia dari segi akidah dan pola berfikirnya. Mulai dari penguasaan pengetahuan Islam sampai pengetahuan umum seperti teknologi, bahasa, ataupun sains. Untuk murid atau peserta didik nonmuslim tidak akan dipaksakan untuk mengikuti pengajaran tentang pengetahuan Islam, akan tetapi disediakan waktu khusus untuk belajar tentang agamanya masing-masing.

Penggunaan teknik pengajaran yang tepat adalah untuk mengintensifkan metode rasional (aqliyah) pada siswa, karena metode tersebut merupakan landasan bagi proses berpikir yang cemerlang dan kebangkitan/kemajuan taraf berpikir yang benar.

Output

Lulusan dari sistem pendidikan islam adalah manusia yang berpola pikir dan beraktivitas berlandaskan aqidah. Sehingga diharapkan menjadi seorang yang taraf berpikirnya tinggi serta melandasi seluruh perbuatannya kepada aqidah yang dipeluknya.

setifikasi guru, solusikah?

Dalam membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal. Guru profesional dan bermartabat menjadi impian kita semua karena akan melahirkan anak bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak. Guru profesional dan bermartabat memberikan teladan bagi terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat.

Pelaksanaan sertifikasi guru diharapkan mampu sebagai solusi berkaitan dengan pencapaian standar guru yang profesional. Akan tetapi, sertifikasi guru seakan-akan menjadi permasalahan baru yang semakin membebani para guru. Khususnya guru-guru yang kurang mendapatkan sosialisasi dari departemen pendidikan.

Dari tinjauan historis memang mayoritas guru di Indonesia kurang mendapatkan kesejahteraan finansial yang memadai dibandingkan dengan negara-negara maju atau berkembang lainnya. Dengan program sertifikasi guru, departemen pendidikan mempunyai alasan kuat dalam menuntut kenaikan gaji guru PNS ataupun yang masih honoris. Alasannya bisa dengan keprofesionalan atau kompetensi guru sudah layak memang untuk mendapatkan gaji yang lebih untuk hidup.

Pertanyaan?

Apakah memang sertifikasi guru bisa menyelesaikan permasalahan pendidikan di Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan tsb, kita perlu melihat secara komprehensif tentang permasalahan pendidikan di Indonesia. Dari fakta yang ada, pendidikan merupakan salah satu dimensi yang tidak terpisahkan dengan yang lainnya seperti kondisi pemerintahan, ekonomi, budaya, serta politik di Indonesia. Sehingga sertifikasi guru hanya merupakan solusi parsial bukan solusi yang mampu membawa perubahan berarti.

Betapa tidak dengan anggaran pendidikan yang minimalis(tidak lebih dari 20% sari APBN), mungkinkah posisi pendidikan di indonesia bisa lebih maju?