BBM naik, solusi terakhir?

Keputusan politik yang diambil pemerintah dengan menaikkan harga BBM adalah kebijakan yang sangat menyengsarakan rakyat. Dengan dalih sudah mengambil berbagai langkah dalam mengontrol APBN yang merugi, akhirnya pemerintah menaikkan BBM dengan sangat menyesal. Pertanyaannya ialah, apakah pemerintah sudah menembuh berbagai cara?

Padahal masih banyak cara yang bisa digunakan oleh Pemerintah tanpa harus mengorbankan rakyat. Pemerintah, misalnya, bisa mengenakan pajak yang sangat tinggi terhadap orang-orang kaya yang berpenghasilan lebih dari Rp 5 juta, atau mengenakan pajak tambahan terhadap rumah-rumah mewah para pejabat yang harganya di atas 500 juta, demikian juga yang mempunyai mobil mewah lebih dari satu. Apa susahnya membuat kebijakan seperti ini. Pemerintah juga bisa saja menunda pembayaran utang plus bunga (APBN 2008) yang jumlahnya 151,2 trilyun. Pemerintah juga bisa menyita harta koruptor yang jumlahnya lebih dari Rp 200 triliun. Pemerintah juga bisa mengambil alih tambang emas, perak, minyak dan batu baru yang sekarang dikuasai oleh asing. Karena semuanya adalah pemilikan umum yang merupakan hak rakyat, tapi sekarang lebih dari 80 persen dikuasai asing. Akan tetapi, kebijakan ini malah tidak diambil oleh Pemerintah.

Jelas dengan melambungnya harga sembako sebagai akibat kenakan BBM, maka jumlah penduduk Indonesia yang terkategorikan miskin akan bertambah banyak. Mengapa Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini? Tidak lain, demi mematuhi tekanan negara-negara imperialis melalui IMF, yang telah memaksa Pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi, termasuk migas. Seperti yang diungkap Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir kepada Tempo Interaktif (2/10/2005), kenaikan harga BBM tersebut hanyalah bagian dari target liberalisasi sektor migas yang akan melepas harga minyak domestik ke pasar dunia.  “Kenaikan ini hanya sebagian saja dari proses menuju liberalisasi tadi dan Pemerintah selangkah lagi dalam agenda tersebut,” kata Baswir. Ia juga memperkirakan, Pemerintah masih akan menaikkan harga BBM, karena harga yang sekarang pun masih di bawah harga pasar. Menurutnya, Pertamina sudah akan kehilangan izin PSO (public service obligation)-nya, dan akhirnya di sektor hilir migas akan masuk pengecer BBM lainnya di Indonesia seperti Exxon, Caltex, dan sebagainya.

Dengan dikuasainya sektor migas oleh perusahaan asing maka rakyat dipaksa membeli hasil sumber daya alam miliknya sendiri dengan harga yang mahal sekali. Sangat tidak logis, milik sendiri dibeli dengan harga yang sangat mahal. Padahal cost produksi BBM ditambah biaya distribusi ke hilir tidaklah sampai Rp. 1000.

Penguasaan kembali SDA(nasionalisasi) yang dikuasai asing adalah salah solusi konkret untuk menyetop kenaikan harga BBM di masa akan datang.

4 Tanggapan

  1. Wah yang pertamax’s nich!!
    jarang2 lho bisa….😆 he…he….
    Wah boleh ja naek tapi kalo ma aku gratis, gmna pak BY?

  2. semoga kita bisa mengambil hikmah dari kenaikan bbm ini

  3. tikus mati di lumbung padi

  4. sulit rasanya kalo kita hanya mengandalkan pemerintah. salah satu jalan untuk membuat rakyat di negara ini makmur adalah berusaha mandiri tanpa campur tangan pemerintah.
    pertanyaannya, bisakah kita…???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: