Politik dalam Pilkada meresahkan rakyat?

Kalau kita hitung-hitung, indonesia sudah berapa kali melakukan pemilu demokratis? Mungkin dengan umur Indonesia 55tahun lebih kita bagikan angka 5 standar interval pelaksanaan pemilu demokratis, maka sudah 11 kali pemilu. Sekarang rakyat berada pada posisi serba bingung dan dimanfaatkan pihak yang berkepentingan dalam politik dengan pelaksanaan pilkada.

Pilkada memang bisa diharapkan memunculkan pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan dan aspirasi rakyat di wilayahnya. Tetapi pilkada akhir-akhir ini semakin membuat rakyat serba salahdan resah dalam berpolitik, kenapa? Dengan pilkada, rakyat dihadapkan pada persaingan di dimensi lokal dan horizontal. Misal persaingan tidak sehat antar kubu partai yang menjalonkan seorang wakil, persaingan antar golongan dan kepentingan. Sehingga mendorong rakyat untuk lebih bersikap berdiam diri atau pasrah dengan fenomena ini.

Sebagai contoh pada Pilkada Jawa Barat baru-baru ini. Sebagaimana yang dilaporkan oleh KPUD Jabar bahwa total pemilih berjumlah 28 juta orang. Hade memperoleh 7.3 suara (40.5%), Aman sebanyak 6.2 juta suara (34.5%), dan Da’i meraup 4.5 juta suara (25.0%). Berarti ada sekitar 10 juta orang tidak mengunakan hak pilihnya atau golput. Apabila persentase tersebut dihitung berdasarkan total pemilih (28 juta), maka golput 35.7 persen, Hade 26.0 persen, Aman 22.2 persen, dan Da’i 16.0 persen.

Ketidakikutan rakyat dalam pemilu menunjukkan bahwa semakin kuatnya kesadaran rakyat bahwa dengan berganti-ganti pemimpin tidak akan membawa perbaikan selama sistem perpolitikan yang di Indonesia ini rusak, penuh KKN, dan berpihak kepada kepentingan suatu golongan semata.

Konsep politik yang salah selama ini dipakai oleh para politikus Indonesia, mereka menganggap politik itu hanya berhubungan dengan kekuasaan. Sehingga dengan harapan menguasai punuk kekuasaan, mereka mampu mengubah kondisi rakyat.

Berpolitik yang benar ialah menekankan pada aktivitas mengabdi kepada kepentingan rakyat/masyarakat, bukan pada kekuasaan. Dengan cara membangun pemikiran di tengah-tengah masyarakat yang mampu menyadarkan dan membawa kebangkitan bagi bangsa. Pemikiran tsb adalah ideologi yang benar. Dengan bertumpu kepada ideologi maka seluruh bangunan pemerintahan akan mempunyai corak yang khas sesuai dengan konsep ideologi yang dipakai.

Indonesia sekarang lebih condong kepada sisrem ideologi demokrasi liberal ala amerika, ideologi yang mengutamakan kepentingan elit penguasa/pengusaha. Tidak salah jika rakyat terus dirugikan demi membela kepentingan pemodal asing atau dalam negeri. Misal kasus lumpur LAPINDO, dimana penduduk sekitar lapindo tidak kuasa menuntut haknya kepada pemerintah yang lebih menganakemaskan perusahaan milik pengusaha terkaya di Indonesia dibandingkan rakyatnya.

Satu Tanggapan

  1. yang penting menang apapun dilakukan waktu kampanye cuap sana cuap sini menarik simpati udah menang lupa sama rakyatnya yang tidak makan lagi potret politik indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: